Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro

Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro - Hai sahabat Keparat(*Kebumen Punya Anak Rantau*) , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel travel, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.



Judul : Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro
link : Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro

Baca juga


Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro

Tidak Disangka, Sejarah Curug Surodipo di Temanggung dan Pangeran Diponegoro

Saat berkunjung ke sebuah tempat wisata, sebagian wisatawan mungkin akan fokus dengan kegiatan wisata apa saja yang ditawarkan.

Namun saat berkunjung ke Curug Surodipo, jangan lupa untuk bertanya soal sejarahnya. Sebab, pemberian nama tempat wisata berkaitan dengan Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya.

“Beliau anak buahnya (Pangeran Diponegoro). Beliau yang juga bangsawan dari Keraton Jogja pernah tinggal di sini dan namanya Surodipo,” kata Ketua Pokdarwis Desa Tawangsari dan salah satu anggota pengelola Obyek Wisata Curug Surodipo, Danang SN, kepada Kompas.com, Senin (8/3/2021).

Dia melanjutkan, Surodipo sempat berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya tinggal di Desa Batur yang lokasinya dekat daerah Sungai Trocoh atau di bawah Curug Surodipo.

Lambat laun, Surodipo makin kaya dan desa semakin makmur. Kendati demikian, pada saat itu desa dihadang bencana banjir yang menghanyutkan permukiman warga.

“Dari masyarakat yang tersisa, mereka pindah ke bukit yang sekarang jadi Desa Tawangsari. Kenapa namanya Curug Surodipo? Untuk mengenang jasanya, air terjun ini dinamakan Surodipo,” jelas Danang.

Pangeran Diponegoro sempat berkunjung ke sana

Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung, Surodipo adalah seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro dan dipercaya menjadi panglima perang saat melawan Belanda pada 1825-1830.

Saat Surodipo pindah ke Desa Tawangsari, dia membangun benteng pertahanan di sana. Bahkan, Pangeran Diponegoro pun sempat berkunjung ke sana.

Adapun, Pangeran Diponegoro berkunjung guna mengumpulkan para panglima perang dan pengikutnya untuk menyusun siasat perang gerilya yang melegenda.

“Kalau ke air terjun nomor lima, ada batu-batu bertumpuk mirip breksi sepanjang 200 meter. Saat perang zaman Belanda, batu itu dibuat untuk berlindung oleh masyarakat setempat dari serangan,” ungkap Danang.

Meski diberni nama Curug Surodipo sebagai penghormatan akan jasa Surodipo, tempat wisata ini juga dikenal sebagai Curug Trocoh.

Dalam Bahasa Jawa, “trocoh” memiliki arti “selalu mengeluarkan air”. Hal tersebut untuk menggambarkan aliran air terjun di tempat wisata yang tidak pernah surut meski saat musim kemarau panjang.

Lihat Foto

KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA

Tempat wisata bernama Curug Surodipo di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA).

Terkait jasa Surodipo, Danang mengungkapkan bahwa Curug Surodipo memiliki sebuah petilasan yang lokasinya dekat dengan gerbang masuk kawasan wisata.

“Wisatawan pasti akan melewatinya karena letaknya di pinggir jalan. Dekat petilasan ada mata air. Kata sesepuh desa sini, konon katanya, barang siapa yang ambil air di situ akan beruntung,” tutur dia.

Saat ini, wisatawan manapun bebas untuk mengambil air di sana. Bahkan, tidak jarang para pengguna sepeda yang berkunjung ke Curug Surodipo mengisi botol minum dengan air dari mata air tersebut.

Harga tiket masuk Curug Surodipo

Curug Surodipo terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Mereka buka setiap hari pukul 08.00-16.00 WIB.

Harga tiket masuk Curug Surodipo adalah Rp 4.000 per orang. Tarif parkir motor adalah Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000. Biaya kemah plus tiket masuk adalah Rp 15.000.

Namun untuk kemah, kendaraan tidak akan ditaruh di kawasan wisata melainkan di area desa yang jaraknya tidak jauh dengan biaya penitipan Rp 5.000 per motor. Dari desa, pengunjung dapat naik ojek ke tempat wisata dengan biaya Rp 10.000 sekali jalan.

Lihat Foto

KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA

Curug Surodipo di Temanggung dilihat dari udara.

“Kalau tidak ada peralatan kemah, kita kerja sama dengan teman-teman di basecamp pendakian Prau, tidak jauh dari sini. Bisa pinjam ke sana. Kalau tidak salah per tenda kisaran Rp 50.000-Rp 70.000,” ujar Danang.

Apabila ingin kemah akan tetapi belum familiar dengan Curug Surodipo, harga sewa pemandu lokal adalah Rp 100.000 per malam untuk rombongan minimal 10 orang.

“Ditemani pemandu untuk satu malam. Pemandu cuma dapat temani ke air terjun nomor satu,” kata dia.

Jika tertarik untuk menginap di dekat air terjun, di rumah warga, menjelajahi air terjun bersama pemandu, atau memesan banyak cucur, kamu dapat hubungi Danang lewat WhatsApp +6282332696600.

Pada masa pandemi sesuai saat ini, pastikan saat berkunjung tetap melakukan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, serta tidak bepergian jika demam atau suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius.

Aktifkan Notifikasimu

Aktifkan

Blogspot Auto Post Indonesia => https://malasnulis.my.id

Mengenal Pengertian dan Istilah Syntax Dalam Pemrograman


(KOM)(MLS)