Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup"

Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup" - Hai sahabat Keparat(*Kebumen Punya Anak Rantau*) , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup", kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Artikel, Artikel Dunia Kerja, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.



Judul : Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup"
link : Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup"

Baca juga


Pro & Kontra Bekerja di Perusahaan Status "Startup"


Ditilik dari besarnya gelombang kerja tiap tahun di Indonesia, banyak pencari kerja mencari fasilitas yang tinggi antara lain gaji besar, tunjangan jabatan maupun kesehatan, bahkan hak-hak lain yang kadang membuat kepala geleng-geleng. Jaman serba cepat ini perusahaan yang mampu tumbuh pesat menjadi idaman bagi lulusan terbaik di berbagai sekolah tinggi. Karir yang cemerlang bagaikan impian besar yang harus direngkuh oleh lulusan ini.

Para profesional muda, jika Anda memasuki dunia kerja atau sedang membuat perubahan karir, mungkin startup dapat terdengar aneh bahkan asing. Berdasar sifat inilah mengapa Anda tidak terpikir sama sekali bekerja perusahaan berstatus "startup". Pengalaman unik saya sendiri bekerja di perusahaan startup dimana mereka mempunyai magnet khusus untuk menarik diri saya bergabung dan mengerjakan hal yang menarik. Kreativitas dan inovasi adalah syarat utama dalam hal ini. Saking seringnya mencari kreativitas bahkan dimana pun saya berada selalu membawa laptop. Pekerjaan terasa menjadi satu di tubuh saya.

Berikut beberapa poin yang bisa saya catat antara plus minus perusahaan berstatus startup ;

1. Belajar Banyak Hal - Startups tempat dimana banyak tanggung jawab harus diemban. Mengapa? Karena perusahaan masih seumur jagung! Sangat rapuh, bahkan cenderung mudah gagal. Founder dari perusahaan ini tentu memilih anggota tim yang mempunyai kemampuan lebih daripada yang lain, baik manajemen ataupun ketrampilan diri. Intinya dapat membantu semua kebutuhan perusahaan mulai dari urusan A sampai Z. Pekerjaan yang diberikan pun sering diluar tanggung jawab Anda. Kabar baiknya Anda bisa belajar dengan gratis bahkan dipandu oleh ahlinya tanpa adanya interupsi politik ala kantor yang menjemukan.

Ingin bekerja tanpa pengawasan kerja Rodi Belanda ataupun Romusha-nya Jepang? Starup jawabannya! Keputusan berkembangnya suatu usaha bergantung pola kerja yang diterapkan. Kebanyakan tim di tiap startup mempunyai semangat membabi buta agar konsep usaha mereka berhasil. Seakan diamini, agaknya pemimpin mereka yang menelurkan semangat ini.

2. Kesempatan Berinovasi - Sebagai usaha rintisan perlu terapi khusus agar bisa bertahan, nah Anda profesional muda-lah yang memberikan terapi tersebut. Entah apapun bentuk dari terapi tersebut, namun intinya adalah menjaga startup tetap pada jalurnya : berkembang dan terus berkembang. Hasil kerja yang berupa desain dan konsep unik menjadi daya tawar kepada konsumen yang akan terus dibanggakan.

Pemaparan dua poin diatas saya rasa masih kurang, mungkin beberapa bisa saya sebutkan di bawah ;
  •   Jam kerja fleksibel 
  •   Kerja bisa dari rumah
  •   Boleh memakai kaos oblong
3. Kepuasan Kerja - Pernah mendengar ungkapan karya adalah hasil dari dalam jiwa? Jika karyawan tidak puas dalam bekerja maka yang terjadi adalah hasil kerja tidak maksimal. Agaknya ungkapan ini sedikit tersingkir di startup, mengapa? Sekarang Anda bisa membayangkan, seorang programmer di perusahaan rintisan membuat aplikasi Android susah payah dan ternyata aplikasi tersebut menjadi booming digunakan banyak orang. Bangga? Iya. Kepuasan inilah yang membuat karyawan akan betah dan menghasilkan berbagai macam inovasi.

Tentunya dengan kabar baik juga baik pasti dibarengi dengan kabar buruk. Berikut juga saya jabarkan sesuai apa yang saya alami.

1. Beban Kerja yang Berat - Pernah suatu kali saya mendapatkan tugas untuk mengerjakan content marketing suatu perusahaan besar, persyaratan yang begitu rumit dan banyak klasifikasi. Poin yang saya ambil adalah beban yang harus saya tanggung. Disatu sisi saya sangat bangga bisa bermitra dengan perusahaan besar melalui startup ini, namun untuk sisi lain klien meminta hasil yang maksimal. Belum lagi dihadapkan dengan fasilitas seadanya karena memang startup bermodal tak seberapa dibanding nama-nama terkenal di Indonesia. Sadar atau tidak pasti ada hikmah bahwa dengan beban kerja yang berat Anda belajar untuk bisa bertahan. Jadi jalani saja.

2. Masa Depan Tak Sekuat Perusahaan Besar - Jika Anda bekerja sesuai dengan passion maka yang terjadi adalah Anda akan mencintai pekerjaan Anda. Tapi perlu kiranya dipikir mendalam mengenai masa depan dan passion. referensi yang saya ambil adalah enelitian yang telah dilakukan oleh UC Berkeley & Stanford beserta kontributor yang lain bahwa rata-rata 90% startup gagal dalam 3 tahun pertama! So? Impian memang harus digapai tapi ketika dihadapkan ketidak pastian, pilihlah mana yang baik untuk Anda. Persaingan ketat di dunia bisnis tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan. Pendiri startup mungkin memang terlihat keren, namun tanpa pengalaman dan mentor dalam mengembangkan usaha rasanya akan lama untuk berhasil.

3. Gaji dari Nol Ya Pak - Perlu dipahami bahwa startup bisa terus hidup karena bootstrap (modal pribadi) atau dengan bantuan funding investor. Tentunya investor lebih mementingkan aliran dana ke biaya operasional, pengembangan produk, dan pertumbuhan pelanggan. Dalam kebanyakan kasus, gaji yang lebih rendah banyak dijumpai karena minimnya dana.



Startups masih berjuang untuk bertahan hidup bahkan ketika mereka telah mencapai sukses dan lebih mapan. Sekecil apapun peran Anda di perusahaan tersebut, efeknya akan memengaruhi hidup mati perusahaan.

 Baca Ini Juga
Bikin Website Klik Disini